Sebuah ketertarikan
mampu menjadi suntikan semangat yang membuat seseorang melakukan suatu hal.
Ketertarikan itu pula yang mengantarkan seseorang sampai pada usaha
terbesarnya. Hal-hal luar biasa juga dapat tercipta karena adanya ketertarikan,
bahkan untuk beberapa hal yang orang lain tak pernah lakukan dan tak pernah pikirkan.
Di sisi lain, daya
juang akan melemah seiring dengan pudarnya rasa ketertarikan. Perasaan malas
juga lebih mudah menggoda seseorang jika ketertarikan sudah tak ada. Lebih
jauh, hilangnya ketertarikan juga dapat merubah hal mudah menjadi sulit, hal
ringan menjadi berat, bahkan suatu hal yang menyenangkan akan terasa seperti
beban.
Inilah sekelumit hal
yang tersirat dalam kuliah perdana Filsafat Ilmu. Suatu perkuliahan yang
membangun semangat belajar dengan mengutamakan kesesuaian jiwa dengan koridor
spiritual. Proses belajar yang dikemas dengan tutur bahasa analog yang santun
untuk didengarkan. Walaupun nyaman didengar, belajar bukan hanya suatu kegiatan
duduk diam mendengarkan. Belajar diawali dengan usaha kita untuk tertarik
mempelajari suatu ilmu kemudian mempelajarinya. Jika ketertarikan berhasil
dibangun, pondasi semangat untuk menimba ilmu akan kokoh berdiri. Sejatinya,
belajar ada pada diri kita sendiri, maka ketertarikan belajar sangatlah perlu
untuk menunjang keberlangsungan rasa ingin tahu kita akan suatu hal. Apalagi
menurut Von Glasersfeld (Dewanti, 2010: 18), suatu pengetahuan dibentuk oleh
struktur konsepsi seseorang sewaktu dia berinteraksi dengan lingkungannya.
Tanpa adanya ketertarikan, interaksi manusia dengan lingkungan akan terasa
hampa, bahkan bisa tanpa makna.
Dalam hidup, kita perlu
memiliki landasan dan payung yang kokoh. Dua hal tersebut merupakan objek
filsafat ilmu dan haruslah tetap pada koridor spiritual. Jika manusia kita
ibaratkan sebagai layang-layang, maka landasan itu serupa dengan tali pengaman
layangan yang membuat layangan tetap terarah dan tidak hilang. Sementara itu,
payung yang dimaksud adalah batas ketinggian seseorang agar bisa tetap diawasi,
tidak melebihi batas, dan tidak hilang dari pandangan (aturan-aturan yang
berlaku).
Kekuatan spiritual juga
mampu memberikan roh sehat pada manusia agar dapat belajar dengan maksimal.
Belajar apapun, perlu tetap ada dalam konteks metode hidup. Suatu metode yang
mampu menghidup-hidupkan sesuatu yang mati menjadi hidup, sesuatu yang kecil
menjadi besar, sesuatu yang sedikit menjadi banyak, sesuatu yang rendah menjadi
tinggi, bahkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada.
Cara untuk mencapai
proses belajar itu tidaklah sulit. Manusia perlu dibekali dengan kemandirian, tanggungjawab,
inisiatif, dan komunikasi yang sehat. Hal ini karena metode hidup berbicara
tentang kegiatan menterjemahkan dan diterjemahkan. Tanpa bekal tersebut,
manusia akan mengalami kesulitan dalam menterjemahkan dan diterjemahkan.
Tumbuhan saja memiliki
ikhtiar untuk belajar, mengapa manusia malas untuk belajar? Akankah manusia
kalah dengan tumbuhan?
Marilah kita olah
pikiran kita sebaik-baiknya. Mengapa? Karena kesimpulan hidup ataupun
kesimpulan belajar yang akan diperoleh tidaklah sama antara orang yang satu
dengan yang lainnya. Kesimpulan terbentuk karena olah pikiran manusia yang
disesuaikan dengan pendengaran dan latar belakang hidupnya. Bahkan cara
berpikir orang yang satu dengan yang lainnya tidak bisa untuk disamakan. Oleh
karena itu, penting kiranya untuk mengolah pikiran yang diawali dengan adanya
ketertarikan dan tetap ada pada koridor spiritual agar menghasilkan kesimpulan
yang positif dan membangun.spiritual agar menghasilkan kesimpulan
yang positif dan membangun.
