Powered By Blogger

Rabu, 09 September 2015

AWALI DENGAN KETERTARIKAN DALAM KORIDOR SPIRITUAL


Sebuah ketertarikan mampu menjadi suntikan semangat yang membuat seseorang melakukan suatu hal. Ketertarikan itu pula yang mengantarkan seseorang sampai pada usaha terbesarnya. Hal-hal luar biasa juga dapat tercipta karena adanya ketertarikan, bahkan untuk beberapa hal yang orang lain tak pernah lakukan dan tak pernah pikirkan.
Di sisi lain, daya juang akan melemah seiring dengan pudarnya rasa ketertarikan. Perasaan malas juga lebih mudah menggoda seseorang jika ketertarikan sudah tak ada. Lebih jauh, hilangnya ketertarikan juga dapat merubah hal mudah menjadi sulit, hal ringan menjadi berat, bahkan suatu hal yang menyenangkan akan terasa seperti beban.
Inilah sekelumit hal yang tersirat dalam kuliah perdana Filsafat Ilmu. Suatu perkuliahan yang membangun semangat belajar dengan mengutamakan kesesuaian jiwa dengan koridor spiritual. Proses belajar yang dikemas dengan tutur bahasa analog yang santun untuk didengarkan. Walaupun nyaman didengar, belajar bukan hanya suatu kegiatan duduk diam mendengarkan. Belajar diawali dengan usaha kita untuk tertarik mempelajari suatu ilmu kemudian mempelajarinya. Jika ketertarikan berhasil dibangun, pondasi semangat untuk menimba ilmu akan kokoh berdiri. Sejatinya, belajar ada pada diri kita sendiri, maka ketertarikan belajar sangatlah perlu untuk menunjang keberlangsungan rasa ingin tahu kita akan suatu hal. Apalagi menurut Von Glasersfeld (Dewanti, 2010: 18), suatu pengetahuan dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang sewaktu dia berinteraksi dengan lingkungannya. Tanpa adanya ketertarikan, interaksi manusia dengan lingkungan akan terasa hampa, bahkan bisa tanpa makna.
Dalam hidup, kita perlu memiliki landasan dan payung yang kokoh. Dua hal tersebut merupakan objek filsafat ilmu dan haruslah tetap pada koridor spiritual. Jika manusia kita ibaratkan sebagai layang-layang, maka landasan itu serupa dengan tali pengaman layangan yang membuat layangan tetap terarah dan tidak hilang. Sementara itu, payung yang dimaksud adalah batas ketinggian seseorang agar bisa tetap diawasi, tidak melebihi batas, dan tidak hilang dari pandangan (aturan-aturan yang berlaku).
Kekuatan spiritual juga mampu memberikan roh sehat pada manusia agar dapat belajar dengan maksimal. Belajar apapun, perlu tetap ada dalam konteks metode hidup. Suatu metode yang mampu menghidup-hidupkan sesuatu yang mati menjadi hidup, sesuatu yang kecil menjadi besar, sesuatu yang sedikit menjadi banyak, sesuatu yang rendah menjadi tinggi, bahkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada.
Cara untuk mencapai proses belajar itu tidaklah sulit. Manusia perlu dibekali dengan kemandirian, tanggungjawab, inisiatif, dan komunikasi yang sehat. Hal ini karena metode hidup berbicara tentang kegiatan menterjemahkan dan diterjemahkan. Tanpa bekal tersebut, manusia akan mengalami kesulitan dalam menterjemahkan dan diterjemahkan.
Tumbuhan saja memiliki ikhtiar untuk belajar, mengapa manusia malas untuk belajar? Akankah manusia kalah dengan tumbuhan?
Marilah kita olah pikiran kita sebaik-baiknya. Mengapa? Karena kesimpulan hidup ataupun kesimpulan belajar yang akan diperoleh tidaklah sama antara orang yang satu dengan yang lainnya. Kesimpulan terbentuk karena olah pikiran manusia yang disesuaikan dengan pendengaran dan latar belakang hidupnya. Bahkan cara berpikir orang yang satu dengan yang lainnya tidak bisa untuk disamakan. Oleh karena itu, penting kiranya untuk mengolah pikiran yang diawali dengan adanya ketertarikan dan tetap ada pada koridor spiritual agar menghasilkan kesimpulan yang positif dan membangun.spiritual agar menghasilkan kesimpulan yang positif dan membangun.

Sabtu, 07 Juli 2012

RUSUN, WEDI KENGSER TERSUSUN
Oleh : Diena Frentika
Pendidikan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga


    Realita pro kontra warga Wedi Kengser kian bergulir. Mereka yang tinggal di bantaran sungai Code di kota Jogja belum juga bisa bernapas lega. Solusi cerdas sangat diperlukan untuk mengatasi polemik ini.
    Warga Wedi Kengser hidup antara hak dan larangan. Mereka merasa berhak untuk bertahan ditengah gempuran larangan. Walaupun kenyataannya mereka tak memiliki hak atas tanah.
    Kondisi ekonomi yang minim. Itulah yang mendorong bantaran sungai Code menjadi pilihan untuk bermukim.
    Walaupun kurang secara finansial, mereka seharusnya tetap menghargai peran hukum. Terlepas dari Indonesia adalah negara hukum.
    Pemerintah melarang karena pemerintah sayang. Perduli dan khawatir dengan keselamatan warga Wedi Kengser.
    Alasan pemerintah melarang juga jelas. Karena melanggar peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.63/1993 tentang Garis Sempadan dan Sungai, Pasal 12. Selain itu menurut buku Hukum Agraria yang ditulis oleh Supriadi, pada musim penghujan tanah Wedi Kengser akan hanyut dan berubah menjadi sungai. Ini sangat membahayakan, karena kemungkinan untuk longsor sangat besar.
    Selain hidup dalam lingkaran larangan, hak mereka juga kurang terlayani sebagai warga negara. Seperti kesulitan untuk mendapatkan KTP, Akta Kelahiran, dan Jamkesmas untuk warga miskin. Ini karena pemerintah menilai warga tersebut tinggal di lokasi ilegal.
    Namun tak bisa jika kita hanya menyorot salah satu sisi. Bagaimanapun juga, munculnya warga tanah Wedi Kengser karena beberapa aspek. Seperti karena proses turun temurun, warisan, dan sikap yang ditunjukkan pemerintah.
    Pemerintah yang yang kurang tegas. Inilah salah satu alasan kenapa masih banyak warga yang tinggal di bantaran sungai.
    Tak hanya itu. Mahalnya harga tanah membuat sulitnya membeli tanah dan rumah. Tak semua orang mampu membayar. Sehingga mereka memilih tinggal di bantaran sungai.
    Seharusnya pemerintah mampu menyediakan pemukiman ekonomis bagi warga kurang beruntung ini. Di atas tanah yang legal dan dengan kondisi lingkungan yang sehat dan aman.
    Rumah susun yang disediakan juga harus menarik. Tidak kumuh seperti cerminan rusun pada umumnya. Kamarnyapun luas, sehingga penghuninya nyaman. Tidak hanya sekedar ruang kotak kecil untuk istirahat. Tapi seperti miniatur rumah, yang membuat warga Wedi Kengser tertarik untuk menghuninya.
    Kompensasi uang penjualan rumah tiap-tiap warga Wedi Kengser juga harus segera dibayarkan. Sesuai dan sebanding dengan harga pasar penjualan. Sehingga mereka tidak merasa di dzalimi oleh pemerintah dan tetap respect kepada Pemerintah.
    Jika alokasi dari pemerintah jelas, rapi, menarik, dan dapat dipertanggungjawabkan, warga Wedi Kengser akan berpikir ulang untuk tetap bertahan di pemukiman bantaran sungai.

EFEK PEMADATAN MATERI
Oleh : Diena Frentika
Pendidikan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

  Mendekati ujian akhir, siswa disibukkan dengan pemadatan materi. Materi yang seharusnya diajarkan dalam waktu 4 kali pertemuan kenyataannya hanya diajarkan dalam 2 kali pertemuan. Kegiatan seperti ini banyak ditentang oleh penganut teori behaviorisme. Penambahan beban pikiran yang diberikan apabila tidak sesuai dengan kapasitas dapat mengganggu psikologis siswa.
    Pengajaran yang diberikan sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan peserta didik, jangan terlalu memaksakan apalagi memberatkan. Dengan pemadatan materi, peserta didik dipaksa untuk paham secara cepat. Pemahaman seperti ini membuat peserta didik hanya mengerti sesaat. Sekarang bisa tetapi besok lupa karena info dipaksa untuk masuk sehingga penyimpanannya berlangsung kurang maksimal.
    Pemadatan materi akan membuat pikiran siswa dipompa lebih kencang untuk menampung materi yang disuguhkan. Inilah yang membuat banyak siswa mengalami kelelahan berpikir. Apabila siswa lelah dalam berpikir, siswa akan mengalami kejenuhan. Secara tidak langsung, kondisi ini mempengaruhi mental dan psikologis siswa karena yang ia rasakan adalah ketakutan, was-was, dan tekanan.
    Hal ini serupa dengan penembakan/penyuntikan secara terus menerus. Penerimaan dan penyerapan yang terjadi menjadi kurang optimal. Seperti obat yang disiapkan untuk jatah 1 minggu jika disuntikkan hanya dalam kurun waktu 1-2 hari, pasien akan mengalami overdosis. Seperti itulah mental dan psikologi siswa didik yang belum siap mendapatkan materi dengan kapasitas besar dalam waktu yang singkat.

Senin, 01 Agustus 2011

Orang Beriman Ibarat Pedagang Sate

               Pedagang sate biasa berjualan untuk menjajakan dagangannya. Mereka menyusuri jalan-jalan, berharap ada pembeli yang berkenan membeli dagangannya. Namun ternyata tidak semua pedagang sate yang di panggil segera datang menghampiri pembelinya.

               Kita ibaratkan pedagang sate seorang manusia, yang diciptakan oleh Allah SWT untuk senantiasa menyembahnya, kemudian kita ibaratkan pembeli itu adalah Allah SWT. Alat indera yang kita miliki, kita ibaratkan sebagai iman. Lalu, bagaimana penggambarannya...???????? Seperti apakah kita...??? Berikut ini adalah penggambaran orang beriman yang kita ibaratkan seperti pedagang sate.


***  Tipe manusia pertama :

Saat berkeliling dan dipanggil oleh pembelinya, dia bergegas menyaut dan datang. Ini dapat terjadi apabila telinga mendengar panggilan dengan jelas. Artinya, saat Allah SWT memanggil (saat adzan berkumandang, saat Ramadhan tiba, dll), saat Allah meminta kita untuk datang, untuk menjalankan perintahnya dan saat itu kita memiliki iman yang baik, iman yang tertanam dengan kuat, hati, jiwa, dan raga kita akan senantiasa tergerak untuk segera menjalankan segala perintahNya.


***  Tipe manusia kedua :

Saat berkeliling dan dipanggil oleh pembelinya, dia tidak bergegas menyaut dan datang. Ini dapat terjadi apabila telinga mendengar panggilan, tetapi pedagang sate sedang sibuk melakukan sutu kegiatan, seperti beristirahat, berbincang-bincang, melayani pembeli lainnya, dll . Artinya, saat Allah SWT memanggil (saat adzan berkumandang, saat Ramadhan tiba, dll), saat Allah meminta kita untuk datang, untuk menjalankan perintahNya, dan saat itu kita memiliki iman yang baik namun kita masih terbuai dengan kenikmatan dunia. Masih enggan meninggalkan aktivitas berbau keduniawian untuk kita tinggalkan sejenak dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan mengejar akhirat. Sehingga kita tidak langsung tergerak untuk segera menjalankan segala perintahNya.


***  Tipe manusia ketiga

Saat berkeliling dan dipanggil oleh pembelinya, dia sama sekali tidak menyaut apalagi datang. Ini dapat terjadi apabila telinga tidak dapat mendengar. Artinya, saat Allah SWT memanggil (saat adzan berkumandang, saat Ramadhan tiba, dll), saat Allah meminta kita untuk datang, untuk menjalankan perintahNya dan pasa saat yang sama, kita tidak lagi memiliki iman kepada Allah, maka kita akan diam seperti batu, tanpa ada usaha untuk menjalankan panggilan dan perintah Allah SWT. 


*********
Itulah gambaran manusia di muka bumi. Kalian berhak memilih akan menjadi tipe manusia yang seperti apa. Semoga kita semua senantiasa mendapatkan yang terbaik di duni dan di akhirat mendatang. Amiiiiinnn

Minggu, 24 Juli 2011

Kereta >>> Korupsi

        Pada suatu hari, tiga orang perempuan cantik yang bersahabat dengan baik memutuskan untuk pergi ke luar kota tempat tinggal mereka. Mereka memutuskan untuk naik kereta pada pagi hari. Mereka terlihat sangat bersemangat. Sebelum tidur, mereka  memasang alarm pukul 03.30 WIB. Namun karena semalam ketiga gadis cantik itu tidak bisa tidur karena membayangkan hari esok, tanpa sadar saat alarm berbunyi mereka hanya terjaga untuk mematikan alarm. Akhirnya mereka berangkat dan keluar dari rumah pada pukul 05. 05 WIB, waktu di mana kereta dimungkinkan belum sampai di stasiun. Walaupun waktu masih senggang, langkah kaki mereka perlebar untuk mempercepat kedatangan mereka di stasiun dekat tempat tinggal mereka. Sepanjang perjalanan mereka bertiga membayangkan hal-hal menyenangkan yang mungkin untuk dilakukan di dalam kereta dan setelah sampai di tempat tujuan. Namun sayang, begitu mereka sampai di stasiun..........
Petugas              : " Keretanya baru saja berangkat 10 menit yang lalu. "
Gadis pertama   : " Gimana ini..?? Kita mau naik apa..? "
Gadis kedua       : " Tunggu aja kereta selanjutnya. "
Gadis ketiga      : " Tapi aku ada seminar jam 07.30. "
Petugas              : " Tunggu saja kereta selanjutnya, sebentar lagi juga datang."
         Dengan perasaan gembira, mereka melangkahkan kaki ke arah kursi tunggu sembari menunggu datangnya kereta yang diucapkan oleh petugas. Dalam penantiannya, mereka merasakan rasa lapar yang teramat sangat karena keinginan mereka untuk sarapan di tempat tujuan sehingga mendorong mereka untuk menunda sarapan. Mereka pun berjalan menuju warteg yang ada di ujung stasiun.
Pedagang           : " Kok baru datang mba? Keretanya kan sudah berangkat. "
Gadis pertama   : " Iya mas, kita kesiangan datangnya. "
Pedagang           : " Terus ini mau nungguin kereta selanjutnya? "
Gadis ketiga      : " Iya, kira-kira masih lama atau tidak ya..?? "
Pedagang           : " Waduh mba, masih 1,5 sampai 2 jam lagi. Kira-kira datangnya jam 07.00 WIB. "
          Mendengar ucapan dari pedagang itu, ketiga gadis menunjukkan muka kecewa. Namun mereka tetap berusaha menunjukkan wajah cerianya sembari duduk di salah satu deretan kursi tunggu stasiun. Waktu berjalan detik demi detik, menit demi menit, hingga tiba saat-saat kereta akan datang.
Gadis pertama  : " Kok lama benget ya keretanya...??? "
Gadis kedua      : " Bukan keretanya yang lama, tapi kitanya yang terlalu awal nunggunya... "
Gadis ketiga     : " Ada ya..... nunggu kereta kok 2 jam..... hahahahaaaa....."
Gadis pertama  : " Tapi ga kerasa lho, kita bertahan disini dari langit masih gelap sampe langit udah terang.."
Gadis kedua      : " Dari masih sepi sampe anak-anak SD sama SMP sliwar sliwer berangkat sekolah, kita belum juga berangkat. Dari tadi masih setia duduk di stasiun. Hahahahahaaaa :) "
Gadis ketiga      : " Ini adalah salah satu cara mempererat persahabatan. Tapi, dah siang juga ya ternyata..??? Huh ! Oia, Seminarnya di mulai jam berapa sih mba...??? Tar ya telat ...??? Apa ga dimarahin..??
Gadis pertama   : " Dimarahin siapa??? Dosen'nya kan ga berani sama aku... Getak sisan nek wani ngomehi..."
Gadis ketiga       : " Mank knapa mba...?? Mahasiswa kesayangan ya...??"
Gadis kedua       : " Bukan, dosen sama mahasiswanya itu seangkatan, umurnya sama, cuma beda satu tahun, ya rikuhlah kalo mau marahin... hahahahahahahaaaa "
Gadis pertama    : " Tapi temen-temen kuliahku itu pinter-pinter lho, mereka taunya aku lulus SMA 3 tahun yang lalu... hahahahahaaaaa  "
Gadis kedua       : " Berarti sandiwaramu bagus banget ya mba..??? hebaaaatttt "
Gadis pertama   : " Bukan karna itu, temen-temen ku itu orangnya lugu-lugu, jadinya mereka kurang begitu pandai membedakan antara kebenaran dan kebohongan. Hahahahahaaaa  "
Gadis ketiga       : " Melasi temen kue...?? Tar kalo telat gimana mba...?? "
Gadis pertama    : " Duh, kamu terlalu perhatian sekali. Gapapa kok. Telat ya biarin, yang penting tar aku tanda tangan ngisi absensi. Biar nilai UAS ku dapet A. "
Gadis kedua       : " Tapi tenang aja mba, jam disini kan jam karet. "
Gadis ketiga      : " Hu'um, mulainya juga mungkin ga jam segitu. "
Gadis pertama   : " Iya emang. Sekarang aku harus memanfaatkan waktu untuk menghafalkan pertanyaan. Biar nanti pas seminar aku bisa tanya, trus lancar tanyanya. "
Gadis ketiga      : " Seminar juga belum kok dah bikin pertanyaan...??? "
Gadis pertama   : " Aduuuuuhh, mahasiswa itu harus cerdas. Sebelum seminar di mulai, kita udah tahu pertanyaan apa yang harus di tanyakan nanti pas seminar. Jadi nanti pas seminar kita bisa terlihat aktif. "
           Ditengah-tengah percakapan, petugas PT Kereta Api memgumumkan melalui halo-halo.
Petugas              : " Kereta sudah mendekat. Kereta sebentar lagi sampai di stasiun ini. "
           Ya. Kereta yang di nanti- nanti akan sampai di stasiun di mana ketiga gadis itu menunggu dari pukul 05.16 sampai pukul 07.20 WIB. Sampai di stasiun kurang lebih 10 menit lagi. Merekapun segera mempersiapkan diri. Menyeberang rel dan siaga di seberang rel untuk naik melalui pintu kereta sebelah kanan. Tepat sekali, pada pukul 07. 30 WIB, kereta api jurusan Yogyakarta tiba di stasiun di mana ketiga anak itu menanti dengan penuh harap.
           Dengan nafas terengah-engah, mereka menerobos kerumunan orang yang berdesak-desakan mencoba memasuki gerbong. Tibanya di dalam, mereka berjalan dengan cepat, memasang mata dengan tajam, mencari celah kursi kosong untuk mereka bertiga duduki. Setelah berjalan menyusuri gerbong satu persatu, mereka memilih tempat berdekatan dalam 1 tempat duduk dalam salah satu gerbong kereta.  Tidak hanya mereka yang duduk di sana. Seorang bapak dan anaknya telah lebih dulu duduk di kursi itu. Namun bapak asing yang duduk di sebelah gadis kedua terlihat nyaman dalam tidurnya dengan menyenderkan badan ke kaca kereta api. Berbagai perbincangan terdengar di antara kebisingan suara mesin dan suara pedagang yang mondar mandir melewati tempat duduk mereka sembari menawarkan jajanan yang mereka jajakan.
           Tidak berselang lama, petugas kereta api melakukan pengecekan karcis penumpang di dalam kereta. Namun ketiga anak itu tidak membawa bahkan membeli karcis satupun. Pada saat petugas mendekat......
Petugas             : " Permisi mba, karcisnya...."
            Ketiga gadis itu hanya tersenyum sembari bersalaman dengan petugas. Tak lupa tangan masing-masing anak menggenggam uang dan mengatakan tempat tujuan mereka. Gadis pertama yang paling tua berkata terlebih dahulu kemudian di ikuti oleh 2 anak lainnya.
Gadis pertama   : " Kutoarjo Pak......"
Gadis kedua       : " Kutoarjo Pak......"
Gadis ketiga      : " Sama Pak......."
Petugas              : " Kutoarjo semua...???? Ya sudah....
             Ketiga anak itu kembali melanjutkan percakapan mereka. Berbagai hal menjadi bahan perbincangan mereka. Tawa canda sesekali terdengar dari arah ketiga gadis cantik itu.


******
Bersambung besok

Jumat, 22 Juli 2011

Inilah Penggambaran Kecil Antara Tuhan dan Manusia

Ada 2 orang sahabat baik. Katakanlah A dan B.

Ketika ada permasalahan yang ingin B ceritakan, B sangat baik pada A.
B menghampiri A dengan penuh kerendahan hati hingga B menjadi sangat dekat dengan A....
Tapi di saat B merasakan kebahagiaan dalam hati dan kehidupannya, ia lupa pada A.....

Suatu ketika....
A merasakan kerinduan pada B.
A rindu akan panggilan namanya oleh B, rindu akan keluh kesah B dan berbagai curhatan dari B tentang semua perasaan dan harapan-harapannya, rindu dengan pujian-pujian yang senantiasa B katakan untuk A.
Karena kerinduannya itulah, A berusaha untuk memanggil B dengan harapan dia dapat kembali dekat dengan A.

Namun pada saat itu....
B sedang memiliki aktivitas dengan pekerjaannya. B ada pada kesibukan ditengah kebisingan. Suasana kerja B sangat ramai dan berisik hingga tidak memungkinkan celah untuk mendengar suara orang lain.
Walaupun B sibuk, A mencoba memanggil B dari luar tempat kerja itu, tapi B tidak mendengar panggilan A dan tidak mengetahui kehadiran A.
A mengulang panggilannya hingga berkali-kali, tapi B tetap saja tidak mendengarnya.
A melambaikan tangannya dan mengeraskan suara panggilannya, namun B tetap tidak mendengarnya.

A berusaha mencari cara lain untuk dapat membuat B sadar akan panggilan A.
A memanggil B dengan  cara melempar uang koin kepada B, namun B hanya menengok ke arah koin itu lalu tersenyum sembari mengambil koin itu tanpa sadar koin itu dari B dan B telah dipanggil.
A menulangi hal yang sama hingga berkali-kali, tetapi B tetap hanya tersenyum bahagia mengumpulkan koin-koin itu tanpa menengok ke arah A dan menyadari panggilan dari A.

Kemudian A melempar kerikil ke arah B untuk memanggilnya, barulah B menengok dan mencari tahu arah kerikil itu. B mencari makna batu itu hingga akhirnya B melihat A dan menyadari panggilan A dan berjalan perlahan mendekat ke arah A.

**************
Begitulah hubungan Allah (A) dan manusia (B)

Saat ada masalah, manusia dekat dengan Allah. Namun saat dia merasakan kebahagiaan, manusia lupa pada Allah dan sibuk dengan kehidupannya.
Saat manusia dipanggil oleh Allah, manusia tidak sadar akan panggilan itu dan tetap sibuk dengan urusan duniawinya.
Saat manusia dipanggil dengan kenikmatan (kebahagiaan, harta, uang, dll ), manusia tidak sadar dan hanya menikmati kenikmatan itu tanpa ingat kepada Allah.
Namun saat Allah memanggil dan mengingatkan manusia dengan kesedihan yang kecil ( kerikil ), kita baru ingat dan kembali kepada Allah.
Lalu bagaimana jika Allah mengingatkan kita dengan cobaan yang besar seperti kita ibaratkan dengan batu besar????

*******
Sesungguhnya segala sesuatu yang kita rasakan, kita miliki, kita alami, itu semua adalah kehendak dari Allah SWT.

Renungan Rohani

Allah tak pernah janjikan:
langit selalu biru...
jalan hidup tanpa batu...
Matahari tanpa hujan...
Kebahagiaan tanpa kesedihan...
Sekses tanpa perjuangan...
Siang tanpa malam...
Tapi Allah selalu janjikan :
Kekuatan dari kelemahan...
Rahmat dari segala ujian...
Pertolongan untuk segala kesusahan...

dan,

Ketika seolah semua kesalahan ada padamu,
Ketika semua seakan memusuhimu,
Ingatlah bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkanmu...
Begitupun ketika kau mendapat begitu banyak sanjungan atas prestasimu,
Ketika begitu banyak yang kagum dengan hasil kerjamu,
Ingatlah bahwa semua itu adalah anugerah dari Allah SWT....